A Letter to Me

Dear Diki,

Pasti kamu terkejut menemukan surat ini dibawah tumpukan kasetmu, maaf aku menyelipkannya disana karena aku hafal betul ritualmu mendengarkan lagu sepulang sekolah, jadi aku menduga kamu pasti akan menemukan suratku ini.

Bagaimana rencanamu masuk universitas negeri? Masih berminat dengan jurusan hukum dan ilmu politik? Hehehe..percayalah kamu akan bosan, ya mungkin saat membaca kalimat ini alismu akan terangkat, atau mungkin malah memakiku dalam hati. Aku tahu itu karena semangat berpetualangmu yang besar akan berujung pada kebosanan di ruang bangku kuliah, semangatmu mungkin menggebu-gebu saat ini setelah setiap hari dicekoki liputan-liputan aksi unjuk rasa mahasiswa untuk menurunkan Soeharto, tapi percayalah itu hanya euforia sesaat. Pada akhirnya kamu akan muak dan jenuh dengan segala intrik-intrik yang terjadi di sekitarmu. Lebih baik kamu tekuni musik yang kamu cintai ini secara serius, kelak kamu akan merasakan hasilnya. Jangan cepat berpuas diri dengan gelar band terbaik di sekolahmu, masih banyak musisi yang jauh lebih hebat dari kamu. Tetapi bila kamu teguh pada pendirianmu untuk berkuliah politik, aku tak akan melarangmu, karena kamu tetap bisa survive dengan segala pilihan yang kamu ambil nantinya.

Masih belum bisa menghilangkan rasa heranmu bagaimana aku bisa mengetahui segala sesuatu tentang kamu? Mungkin kamu tak akan percaya, tapi aku adalah kamu 20 tahun yang akan datang, dan kamu adalah aku 20 tahun yang lalu. Bingung? Sudahlah bukan urusan kita bagaimana suratku ini bisa sampai di tanganmu.

Anyway bagaimana kehidupan cintamu? Hahaha selamat ya akhirnya kamu jadian, tak akan aku ceritakan bagaimana ceritanya kemudian, nanti kamu akan terkejut mendengarnya, jalani saja dulu mungkin ceritamu akan berbeda denganku..hehe.
Tetapi bila kemudian jalan ceritamu sama denganku, jangan takut karena pada akhirnya kamu akan menemukan seseorang yang benar-benar sesuai denganmu dalam segala hal. Tapi jangan salah kira, aku tidak mengatakan sesuai disini berarti sifat-sifatnya sama persis denganmu, justru sebaliknya banyak perbedaan sifat yang akan kamu temui di dirinya, walaupun ada saatnya perbedaan itu memuncak somehow kalian (atau aku katakan kami?) akan bisa saling menerima, memaafkan dan bahkan saling mencintai lebih besar lagi dari sebelumnya. Akan banyak orang-orang di sekitarmu mengatakan bahwa kalian berdua mirip secara fisik dan terlihat cocok..hihihihi.
Tapi jalani saja romansamu saat ini, nikmati prosesnya, jangan terburu-buru mencari dia yang kuceritakan ini, akan susah jadinya karena posisinya saat ini masih tinggal di Jakarta dan you know what? Saat ini dia masih berumur 9 tahun! Hahaha yah kalian terpaut 10 tahun lebih satu bulan, jangan menghabiskan energimu untuk memikirkan cara kalian bertemu nantinya, seperti yang aku bilang itu bukan urusan kita. Jangan takut, jalani saja pilihanmu, aku tak pernah menyesal dengan pilihan-pilihan yang aku buat dahulu, pilihan-pilihan itu jugalah yang mendewasakanku. Dan pada akhirnya dengan dia juga kamu merasa yakin, seperti aku sekarang merasa yakin untuk menjadi tua bersamanya 🙂

Baiklah mungkin aku sudahi saja suratku ini dan membiarkanmu memiliki pilihanmu sendiri, tapi ada beberapa pesan untukmu, dariku untuk aku;

Pertama, jangan malas! Ingatlah kamu sekarang tinggal menumpang di rumah Om Ed. Aku tahu beliau tak pernah mempermasalahkannya, tapi mungkin saja ada orang-orang yang akan mengungkit-ungkit kelakuanmu ini kelak di kemudian hari.

Kedua, simpan baik-baik buku-bukumu! Buku adalah harta bagi hati, jiwa dan pikiranmu. Simpan baik-baik mereka, tirulah Mamam yang tak pernah membuang satu buah bukupun.

Ketiga dan yang paling penting, aku tahu kamu sering berselisih paham dengan Papa, hingga tak jarang kamu berbicara dengan nada keras pada beliau. Mungkin kamu belum bisa memahaminya saat ini, tapi percayalah Papa sangat menyayangi kamu dan aku, Percayalah…

Okay, sampai disini saja suratku. Tetaplah sayangi keluarga, merekalah yang akan selalu ada untukmu, dan untukku.

Dikie

P.S: Jangan memaksa gondrong, kamu terlihat mengerikan dengan rambut gondrong

pic source: flickr.com

Updated 31st March 2019

2 respons untuk ‘A Letter to Me’

Tinggalkan Balasan ke astri Batalkan balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.